Laman

Selasa, 29 Januari 2013

ASPEK-ASPEK PRAGMATIK: TINDAK TUTUR, PRAANGGAPAN, IMPLIKATUR

2.1    Pengertian Tindak Tutur
Tindak tutur adalah bagian dari pragmatik. Tindak tutur (istilah Kridalaksana ‘pertuturan’ / speech act, speech event): pengujaran kalimat untuk menyatakan agar suatu maksud dari pembicara diketahui pendengar (Kridalaksana, 1984:154). Tindak tutur (speech atcs) adalah ujaran yang dibuat sebagai bagian dari interaksi sosial (Hudson dikutif Alwasilah, 1993:19). Menurut Hamey (dikutif Sumarsono, dan Paina Partama, 2002:329-330)tindak tutur merupakan bagian dari peristiwa tutur, dan peristiwa tutur merupakan bagian dari situasi tutur.  Setiap peristiwa tutur terbatas pada kegiatan, atau aspek-aspek kegiatan yang secara langsung diatur oleh kaidah atau norma bagi penutur. Ujaran atau tindak tutur dapat terdiri dari satu tindak turur atau lebih dalam suatu peristiwa tutur dan situasi tutur. Dengan demikian, ujaran atau tindak tutur sangat tergantung dengan konteks ketika penutur bertutur. Tuturan-tuturan baru dapat dimengerti hanya dalam kaitannya dengan kegiatan yang menjadi konteks dan tempat tuturan itu tejadi. Sesuai dengan pendapat Alwasilah (1993:20) bahwa ujaran bersifat context dependent (tergantung konteks)
Tindak tutur merupakan gejala individu, bersifat psikologis, dan ditentukan oleh kemampuan bahasa penutur dalam menghadapi situasi tertentu. Tindak tutur di titikberatkan kepada makna atau arti tindak, sedangkan peristiwa tutur lebih dititikberatkan pada tujuan peristiwanya (Suwito, 1983:33).  Dalam tindak tutur ini terjadi peristiwa tutur yang dilakukan penutur kepada mitra tutur dalam rangka menyampaikan komunikasi. Agustin (dikutuf Subyakto, 1992:33) menekankan tindak tutur dari segi pembicara. Kalimat yang bentuk formalnya berupa pertanyaan  memberikan informasi dan dapat pula berfungsi melakukan suatu tindak tutur yang dilakukan oleh penutur. Dengan demikian, penutur yang diucapkan suatu tindakan, seperti “Pergi!”, “Silahkan Anda tinggalkan rumah ini, karena Anda belum membayar kontraknya!”, “Saya mohon Anda meninggaln rumah ini” tindak tutur ini merupakan suatu perintah dari penutur kepada mitra tutur  untuk melakukan tindakan.
Tindak tutur adalah kegiatan seseorang menggunakan bahasa kepada mitra tutur dalam rangka mengkomunikasikan sesuatu. Apa makna yang dikomukasikan tidak hanya dapat dipahami berdasarkan penggunaan bahasa dalam bertutur tersebut tetapi juga ditentukan oleh aspek-aspejk komunikasi secara komprehensif, termasuk aspek-aspek situasional komunikasi.
Dalam menuturkan kalimat, seorang tidak semata-mata mengatakan sesuatu dengan mengucapkan kalimat itu. Ketika ia menuturkan kalimat, berarti ia menindakkan sesuatu. Dengan mengucapkan, “Mau makan apa?” sipenutur tidak semata-mata menanyakan atau jawaban tertentu, ia juga menindakkan sesuatu, yakni menawarkan makan siang. Seorang ibu berkata kepada anak perempuannya yang dikunjungi oleh pacarnya “Sudah pukul sembilan”. Ibu tadi tidak semata-mata memberitahukan tentang keadaan yang berkaitan dengan waktu, tetapi juga menindakkan sesuatu yakni memerintahkan mitra tutur  atua orang laian (misalnya anaknya ) agar pacarnya pulang.

2.
1.1 Jenis-Jenisnya Tindak Tutur
            Tindak tutur atau tindak ujaran (speech act) mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam pragmatik karena TT adalah satuan analisisnya. Uraian berikut memaparkan klasifikasi dari berbagai jenis TT. Menurut pendapat Austin (dikutif Chaer dan Leonie Agustina, 1995:68-69) merumuskan  adanya tiga jenis tindak tutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi.
  1. Tindak tutur lokusi atau apa yang dikatakan (locutionary act) adalah tindak tutur yang untuk menyatakan sesuatu. Misal; kakinya dua, pohon punya daun. Tindak tutur yang dilakukan oleh penutur  berkaitan dengan perbuatan dalam hubungannya tentang sesuatu dengan mengatakan sesuatu (an act of saying something), seperti memutuskan, mendoakan, merestui dan menuntut.
  2. Tindak tutur ilokusi (illocutionary act) yaitu, tindak tutur yang didepinisikan tidak tutur ilokusi sebagi sebuah tuturan selain berfungsi untuk mengatakan atau mengimformasikan sesuatu dapat juga digunakan untuk melakukan sesuatu. Dengan kata lain, tindak tutur yang dilakukan oleh penutur berkaitan dengan perbuatan hubungan dengan menyatakan sesuatu. Tindak tutur ilokusi berkaitana dengan nilai yang ada dalam proposisinya. Contoh, “Saya tidak dapat datang”. Kalimat ini oleh seseorang kepada temannya yang baru melaksanakan resepsi pernikahan anaknya, tidak hanya berfungsi untuk menyatakan sesuatu, tetapi juga melakukan sesuatu yakni meminta maaf karena tidak datang.
  3. Tindak tutur perlokusi: Austin, Searle, perbuatan yang dilakukan dengan mengujarkan sesuatu, membuat orang lain percaya akan sesuatu dengan mendesak orang lain untuk berbuat sesuatu, dll. atau mempengaruhi orang lain (perlocutionary speech act)
Misalnya:
Tempat itu jauh.
mengandung pesan. metapesan ‘Jangan pergi ke sana!’ metapesan (Dalam pikiran mitratutur ada keputusan) “Saya tidak akan pergi ke sana.”
            Pembagian tindak tutur berdasarkan maksud penutur ketika berbicara (ilokusi) Searle membagi dalam lima jenis. Pembagian ini menurut Searle (1980:16) didasarkan atas asumsi “Berbicara menggunakan suatu bahasa adalah mewujudkan prilaku dalam aturan yang tertentu”. Kelima tindak tutur tersebut adalah sebagai berikut.
  1. Tindak tutur repesentatif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk menetapan atau menjelakan sesuatu apa adanya. Tindak tutur ini, seperti menyatakan, melaporkan, memberitahukan, menjelaskan, mempertahankan, menolak dan lain-lain. Tindak menyatakan, mempertahankan maksudnya adalah penutur mengucapkan sesuatu, maka mitra tutur percaya terhadat ujaran penutur. Tindak melaporkan memberitahukan, maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka penutur percaya bahwa telah terjadi sesuatu. Tindak menolak, menyangkal, maksudnya penutur mengucapkan sesuatu maka mitra tutur percaya bahwa terdapat alasan untuk tidak percaya. Tindak menyetujui, menggakui, maksudnya ketika penutur mengujarkan sesuatu, maka mitra tutur percaya bahwa apa yang diujarkan oleh penutur berbeda dengan apa yang ia inginkan dan berbeda dengan pendapat semula.
Contoh
Guru : Pokok bahasan kita hari ini mengenai analisis wacana.
Tuturan guru di atas, merupakan salah satu contoh tindak tutur representatif yang termasuk mdalam tindak memberitahukan.
  1. Tindak tutur komisif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pembicaraan melakukan sesuatu, seperti berjanji, bernazar, bersumpah, dan ancaman. Komisit terdiri dari 2 tipe, yaitu promises (menyajikan) dan offers (menawarkan) (Ibrahim, 1993:34). Tindak menjanjikan, mengutuk dan bersumpah maksudnya adalah penutur  menjajikan mitra tutur untuk melakukan A, berdasarkan kondisi mitra tutur menunjukkan dia ingin penutur melakukan A.
Contoh saya berjanji akan datang besok
Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak komisif yang termasuk dalam menjanjikan
  1. Tinddak tutur direkfif, yaitu tindak tutur yang berfungsi untuk mendorong pendengar melakukan sesuatu, misalnya menyuruh, perintah, meminta. Menutur Ibrahim (1993:27) direktif mengespresikan sikap penutur terhadap tindakan yang akan dilakukan oleh mitra tutur, mislnya meminta, memohon, mengajak, bertanya, memerintah, dan menyarankan. Tindak meminta maksunya ketika mengucapkan sesuatu, penutur meminta mitra tutur untuk melakukan A, maksudnya mitra tutur melakukan A, karena keinginan penutur. Tindak memerintah, maksudnya ketika penutur mengekspresikan keinginannya pada mitra tutur untuk melakukan A, mitra tutur harus melakukan A, mitra tutur melakukan A karena keinginan penutur. Tindak bertanya, ketika mengucapkan sesuatu penutur bertanya, mengekspresikan keingin kepada mitratutur, mitra tutur menjawab apa yang ditanya oleh penutur.
Contoh
Guru         : Siapa yang piket hari ini?
Siswa        : Ani (siswa yang bersangkutan maju)
Tuturan di atas, merupakan suatu pernyatan yang tujuannya meminta informasi mitra tutur.
Guru         : Coba, ulangi jawabannya.
Tuturan ini juga termasuk tindak tutur direktif yang maksudnya menyuruh meminta si A mengulangi kembali jawabannya.
  1. Tindak tutur ekspresif, tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berupa tindak meminta maaf, berterimakasih,menyampaikan ucapan selamat, memuji, mengkritik. Penutur mengekspresikan perasaan tertentu kepada mitra tutur baik yang berupa rutinitas maupun yang murni. Perasaan dan pengekspresian penutur untuk jenis situasi tertentu yang dapat berupa tindak penyampaian salam (greeting) yang mengekspresikan rasa senang, karena bertemu dan melihat seseorang, tindak berterimakasih (thanking) yang mengekspresikan rasa syukur, karena telah menerima sesuatu. Tindak meminta maaf (apologizing) mengekspresikan simpati, karena penutur telah melukai atau mengganggu mitra tutur.
Contoh : Ya, bagus sekali nilai rapormu.
Tuturan di atas, merupakan salah satu contoh tindak ekspresif yang termasuk pujian.
  1. Tindak tutur deklaratif, yaitu tindak tutur  yang berfungsi untk memantapkan sesuatu yang dinyatakan, atara lain dengan setuju, tidak setuju, benar-benar salah, dan sebagainya.
 Tindak tutur langsung-tidak langsung dan literal-tidak literal
Berdasarkan isi kalimat atau tuturannya, kalimat dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu kalimat berita (deklaratif), kalimat tanya (interogatif), dan kalimat perintah (imperatif).
Adiknya sakit. Di mana handuk saya? Pergi!. Berdasarkan mudusnya, kalimat atau tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan langsung dan tuturan tidak langsung. Misalnya:
Tuturan langsung
A: Minta uang untuk membeli gula!
B: Ini.
Tuturan tidak langsung
A: Gulanya habis, yah.
B: Ini uangnya. Beli sana!
Kadang-kadang secara pragmatis kalimat berita dan tanya digunakan untuk memerintah, sehingga merupakan TT tidak langsung (indirect speech). Hal ini merupakan sesuatu yang penting dalam kajian pragmatik. Misalnya:
1. Rumahnya jauh. (ada maksud: jangan pergi ke sana).
2. Adiknya sakit. (ada maksud: jangan ribut atau tengoklah!)
            Berdasarkan keliteralannya, tuturan dapat dibedakan menjadi tuturan literal dan tuturan tidal literal.
1. Tuturan literal: tuturan yang sesuai dengan maksud atau modusnya. Misalnya, Buka mulutnya! (makna lugas: buka).
2. Tuturan tidak literal: tuturan yang tidak sesuai dengan maksud dalam tulisan/tuturan. Misalnya, Buka mulutnya! (makna tidak lugas: tutup). Hal ini disebut juga ‘nglulu’
Dalan bahasa kadang-kadang terjadi, yang bagus dikatakan jelek (hal ini disebut banter ([bEnte]), yang jelek dikatakan bagus (disebut ‘ironi’).
            Masing-masing tindak tutur (langsung, tidak langsung, literal, dan tidak literal) apabila disinggungkan (diinterseksikan) dapat dibedakan menjadi 8 macam seperti sebagai berikut.
1. TT langsung
2. TT tidak langsung
3. TT literal
4. TT tidak literal
5. TT langsung literal
6. TT tidak langsung literal
7. TT langsung tidak literal
8. TT tidak langsung tidak literal
Misalnya, kalimat Radione kurang banter.
1. TT langsung Radione kurang banter. betul-betul kurang keras.
2. TT tidak langsung keraskan radionya!
3. TT literal betul-betul kurang keras.
4. TT tidak literal suara radionya keras sekali.
5. TT langsung literal betul-betul kurang keras
6. TT tidak langsung literal keraskan radionya!
7. TT langsung tidak literal suara radionya keras sekali.
8. TT tidak langsung tidak literal matikan!

2.2    Pengertian Praanggapan (Presuppotion)
Praanggapan (presuposisi) berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang kawan bicara atau hal yang dibicarakan.
Selain definisi tersebut, beberapa definisi lain tentang praanggapan di antaranya adalah: Levinson (dikutif Nababan, 1987:48) memberikan konsep praanggapan yang disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna. George Yule (2006:43) menyatakan bahwa praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan. Yang memiliki presuposisi adalah penutur bukan kalimat. Louise Cummings (1999: 42) menyatakan bahwa praanggapan adalah asumsi-asumsi atau inferensi-inferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu. Nababan (1987:46), memberikan pengertian praanggapan sebagai dasar atau penyimpulan dasar mengenai konteks dan situasi berbahasa (menggunakan bahasa) yang membuat bentuk bahasa (kalimat atau ungkapan) mempunyai makna bagi pendengar atau penerima bahasa itu dan sebaliknya, membantu pembicara menentukan bentuk-bentuk bahasa yang dapat dipakainya untuk mengungkapkan makna atau pesan yang dimaksud.
Dari beberapa definisi praanggapan di atas dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang akan disampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Untuk memperjelas hal ini, perhatikan contoh berikut :
(1)   a : “Aku sudah membeli bukunya Pak Udin kemarin”
b : “Dapat potongan 30 persen kan?
            Contoh percakapan di atas menunjukkan bahwa sebelum bertutur (1A) memiliki praanggapan bahwa B mengetahui maksudnya yaitu terdapat sebuah buku yang ditulis oleh Pak Pranowo.
            Kesalahan membuat praanggapan efek dalam ujaran manusia. Dengan kata lain, praanggapan yang tepat dapat mempertinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Makin tepat praanggapan yang dihpotesiskan, makin tinggi nilai komunikatif sebuah ujaran yang diungkapkan. Menurut Chaika (1982:76), dalam beberapa hal, maka wacana dapat dicari melalui praanggapan. Ia mengacu pada makna yang tidak dinyatakan secara eksplisit.
Contoh:
(2a) “Ayah saya datang dari Surabaya”.
(3a) “Minuman nya sudah selesai”.
Dari contoh (2a) praanggapan adalah: (1) saya mempunyai ayah; (2) Ayah ada disurabaya. Pada contoh (3a) praanggapannya adalah silahkan diminum. Oleh karena itu, fungsi praanggapan ialah membantu mengurangi hambatan respons orang terhadap penafsiran suatu ujaran.   
2.2.1        Ciri Praanggapan
            Ciri praanggapan yang mendasar adalah sifat keajegan di bawah penyangkalan (Yule,   2006:45). Hal ini memiliki maksud bahwa praanggapan (presuposisi) suatu pernyataan akan tetap ajeg (tetap benar) walaupun kalimat itu dijadikan kalimat negatif atau dinegasikan. Sebagai contoh perhatikan beberapa kalimat berikut :
(4) a:  “Gitar Budi itu baru”.
      b:  “Gitar Budi tidak baru”.
Kalimat (b) merupakan bentuk negatif dari kaliamt (4a). Praanggapan dalam kalimat (4a) adalah Budi mempunyai gitar. Dalam kalimat (b), ternyata praanggapan itu tidak berubah meski kalimat (b) mengandung penyangkalan tehadap kalimat (4a), yaitu memiliki praanggapan yang sama bahwa Budi mempunyai gitar.
Wijana (dikutif, 2009:64) menyatakan bahwa sebuah kalimat dinyatakan mempresuposisikan kalimat yang lain jika ketidakbenaran kalimat yang kedua (kalimat yang diprosuposisikan) mengakibatkan kalimat pertama (kalimat yang memprosuposisikan) tidak dapat dikatakan benar atau salah. Untuk memperjelas pernyataan tersebut perhatikan contoh berikut.
(5) a. “Istri pejabat itu cantik sekali”.
      b. “Pejabat itu mempunyai istri”.
Kalimat (b) merupakan praanggapan (presuposisi) dari kalimat (5a). Kalimat tersebut dapat dinyatakan benar atau salahnya bila pejabat tersebut mempunyai istri. Namun, bila berkebalikan dengan kenyataan yang ada (pejabat tersebut tidak mempunyai istri), kalimat tersebut tidak dapat ditentukan kebenarannya.
2.2.2  Jenis-jenis Praanggapan
Praanggapan (presuposisi) sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur (Yule, 2006:46). Selanjutnya Gorge Yule mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan,  yaitu presuposisi eksistensial, presuposisi faktif, presuposisi non-faktif, presuposisi leksikal, presuposisi struktural, dan presuposisi konterfaktual.
  1. Presuposisi Esistensial
Presuposisi (praanggapan) eksistensial adalah preaanggapan yang menunjukkan eksistensi/ keberadaan/ jati diri referen yang diungkapkan dengan kata yang definit.
(6) a. Orang itu berjalan
      b. Ada orang berjalan
 2.   Presuposisi Faktif
Presuposisi (praanggapan) faktif adalah praanggapan di mana informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai suatu kenyataan.
(7) a. Dia tidak menyadari bahwa ia sakit
      b. Dia sakit
(8) a. Kami menyesal mengatakan kepadanya
      b. Kami mengatakan kepadanya
3.    Presuposisi Leksikal
Presuposisi (praanggapan) leksikal dipahami sebagai bentuk praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami.
(9) a. Dia berhenti merokok
      b. Dulu dia biasa merokok
(10)a. Mereka mulai mengeluh
       b. Sebelumnya mereka tidak mengeluh
4.    Presuposisi Non-faktif
Presuposisi (praanggapan) non-faktif adalah suatu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
(11) a. Saya membayangkan bahwa saya kaya
        b. Saya tidak kaya
(12) a. Saya membayangkan berada di Hawai
        b. Saya tidak berada di Hawai
5.    Presuposisi Struktural
Presuposisi (praanggapan) struktural mengacu pada sturktur kalimat-kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Hal ini tampak dalam kalimat tanya, secara konvensional diinterpretasikan dengan kata tanya (kapan dan di mana) seudah diketahui sebagai masalah.
(12) a. Di mana Anda membeli sepeda itu?
        b. Anda membeli sepeda
(13) a. Kapan dia pergi?
        b. Dia pergi
6.    Presuposisi konterfaktual
Presuposisi (praanggapan) konterfaktual berarti bahwa yang di praanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
(14) a. Seandainya

2.3  Pengertian Implikatur (Makna Tersirat)
Konsep implikatur  kali pertama dikenalkan oleh H.P. Grice (1975) untuk memcahkan persoalan makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harfiah Brown dan Yule (1983:1. Sebagai contoh, kalau ada ujaran panas disini bukan? Maka secara implisit penutur menghendaki agar mesin pendingin di hidupkan atau jendela dibuka.
Makna tersirat (implied meaning) atau implikatur adalah makna atau pesan yang tersirat dalam ungkapan lisan dan atau wacana tulis. Kata lain implikatur adalah ungkapan secara tidak langsung yakni makna ungkapan tidak tercermin dalam kosa kata secara literal (Ihsan, 2011:93)
Menurut Grice (dikutif Rani, Arifin dan Martutik, 2004:171), dalam pemakaian bahasa terdapat implikatur yang disebut implikatur konvensional, yaitu implikatur yang ditentukan oleh ‘arti konvensional kata-kata yang dipakai’.
Contoh:
(15) Dia orang Palembang karena itu dia pemberani.
Pada contoh (15) tersebut, penutur tidak secara langsung menyatakan bahwa suatu ciri (pemberani) disebabkan oleh ciri lain (jadi orang Palembang), tetapi bentuk ungkapan yang dipakai secara konvensional berimplikasi bahwa hubungan seperti itu ada. Kalau individu itu dimaksud orang Palembang dan tidak pemberani, implikaturnya yang keliru tetapi ujaran tidak salah.
Contoh:
(16) Minumnya sudah tersedia, Pak!
Pada contoh (16) tersebut, Anda tentu akan mengatakan bahwa orang yang mengucapkan kalimat itu sedang memberitahukan bahwa minuman telah telah selesai dihidangkan. Yang menjadi persoalan kita bbukan apakah orang itu telah selesai atau belum selesai menghidangkan minuman tetapi apa maksud ucapan itu sebenarnya? Nah sekarang minumannya sudah tersedia maka silahkan diminum.
            Ternyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam percapan umunnya dari ucapan yang dikeluarkan oleh pelaku tindak berbahasa mengandung makna. Oleh karena itu, pendengar harus mampu menetapkan bahwa ada makna atau maksud lain di balik ucapan yang telah dikeluarkan oleh pembicara itu. Dengan demikian, secara efektif pendengar dapat memberi respon atau tanggapan yang sesui dengan implikator yang muncul.
            Untuk dapat menetukan apa yang dimaksud dibalik apa yang dikatakan kita memerlukan pengetahuan tentang kaidah pragmatiknya. Dengan kata lain, untuk menentukan implikatur suatu ucapan kita harus memahami apa kaidah pragmatiknya.

sumber: edisuryadimaranaicindo.wordpress.com/

Defenisi Bahasa Menurut Para Ahli

Bahasa adalah suatu sistem bunyi yang jika digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa itu (William A. Haviland dalam http://carapedia.com/pengertian_definisi_bahasa_menurut_para_ahli_into494).

Ada dua pengertian bahasa; pertama, menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer (Keraf dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa yaitu language can be defined as a socially shared combinations of those symbol and rule governed combinations of those symbols (bahasa dapat didefinisikan sebagai kode yang diterima secara sosial atau sistem konvensional untuk menyampaikan konsep melalui kegunaan simbol-simbol yang dikehendaki dan kombinasi simbol-simbol yang diatur oleh ketentuan) (Owen dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Ada dua definisi bahasa. Pertama, bahasa adalah sistem yang sistematis, barang kali juga untuk sistem generatif. Kedua, bahasa adalah seperangkat lambang-lambang mana suka atau simbol-simbol arbitrer (Henry Guntur Tarigan dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa adalah rangkaian bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia secara sadar (Kusno Budi Santoso dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa adalah sebuah bentuk dan bukan suatu keadaan (language may be form and not matter) atau sesuatu sistem lambang bunyi yang arbitrer, atau juga suatu sistem dari sekian banyak sistem-sistem, suatu sistem dari suatu tatanan atau suatu tatanan dalam sistem-sistem (W.F. Mackey dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa adalah sistem simbol bunyi yang bermakna dan berartikulasi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbitrer dan konvensional, yang dipakai sebagai alat berkomunikasi oleh sekelompok manusia untuk melahirkan perasaan dan pikiran (Wahyu Wibowo dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa ialah komunikasi yang paling lengkap dan efektif untuk menyampaikan ide, pesan, maksud, perasaan dan pendapat kepada orang lain (Walija dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Ada dua pengertian bahasa. Pertama, bahasa adalah alat yang dipakai untuk membentuk pikiran dan perasaan, keinginan dan perbuatan-perbuatan, alat yang dipakai untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Kedua, bahasa adalah tanda yang jelas dari kepribadian yang baik maupun yang buruk, tanda yang jelas dari keluarga dan bangsa, tanda yang jelas dari budi kemanusiaan (A.R. Syamsuddin dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa adalah suatu sistem yang mengutarakan dan melaporkan apa yang terjadi pada sistem saraf (Maruli Pangabean dalam Syarif Hidayatullah, 2009).

Bahasa adalah suatu sarana penghubung rohani yang amat penting dalam hidup manusia (Ag Soejono dalam Syarif Hidayatullah, 2009).
 
sumber: http://fahrinclimber.blogspot.com/2012/03/makalah-sosiolinguistik-bahasa-dan.html

Hakikat Bahasa

Dalam kajian linguistik umum bahasa, baik sebagai langage maupun langue, lajim didefinisikan sebagai sebuah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang digunakan manusia sebagai alat komunikasi atau alat interaksi sosial. Sebagai sebuah sistem, bahasa juga bersifat sistematis, artinya secara keseluruhan bahasa itu ada kaidah-kaidahnya. Lalu, secara sistematis artinya, sistem bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, melainkan ada subsistem-subsistemnya, yang subsistemnya gramatikal dan subsistem semantik.
Sebagai lambang artinya, setiap satuan bahasa seperti kata dan kalimat, tentu ada yang dilambangkannya. Kemudian, karena lambang bahasa itu berupa bunyi, maka lambang bahasa yang berbunyi [kuda] digunakan untuk melambangkan atau menandai ‘sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai’ dan lambang bahasa yang berbunyi [air] digunakan untuk melambangkan atau menandai ‘sejenis zat cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari’.
Lambang bahasa itu bersifat arbitrer. Artinya, tidak ada “hubungan wajib” antara lambang dengan yang dilambangkan. Jadi, kalau ditanyakan “mengapa binatang berkaki empat yang biasa dikendarai” disebut atau dilambangkan dengan bunyi [kuda] tidaklah bisa dijelaskan. Begitu juga tidak bisa dijelaskan “mengapa zat cair yang biasa digunakan untuk keperluan sehari-hari” disebut atau dilambangkan dengan bunyi [air].
Akibat dari sifat arbitrer ini, maka akan kita dapati adanya sebuah lambang yang digunakan untuk melambangkan dua maujud yang berbeda. Misalnya, lambang yang berbunyi [pacar] digunakan untuk melambangkan dua maujud yaitu, ‘kekasih’ dan ‘ pemerah kuku’ atau “inai”. Bisa juga dua lambang yang berbeda atau lebih digunakan untuk melambangkan maujud yang sama. Misalnya lambang [mati] , [wafat], dan [meninggal] sama-sama melambangkan keadaan ‘yang tadinya bernyawa menjadi tidak bernyawa’. Kejadian lain akibat dari sifat arbitrer ini bisa menjadikan sebuah lambang bunyi menjadi berbeda dari yang dilambangkan terdahulu. Misalnya lambang yang berbunyi [ceramah], dulu digunakan untuk melambangkan keadaan ‘bawel, cerewet’; tetapi sekarang digunakan untuk melambangkan maujud ‘uraian mengenai suatu bidang ilmu di muka orang banyak’.

Bagian akhir dari definisi tentang bahasa menyatakan bahwa bahasa itu digunakan oleh para penuturnya untuk berkomunikasi atau berinteraksi dalam suatu tuturan (Abdul Chaer, Linguistik Umum, 2010 : Rineka Cipta).

PERIODISASI SASTRA INDONESIA DAN KARYANYA




 Indonesia kaya dengan karya sastra. mulai dari Periode Pujangga lama sampai angkatan 2000-an. nah untuk tahu lebih lanjut, saya paparkan semuanya dibawah ini.

1.      PUJANGGA LAMA
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasikan karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20, pada masa ini karya sastra didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Di Nusantara budaya melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan semenanjung malaya. Di Sumatra bagian utara muncul karya-kaya penting berbahasa melayu terutama karya-karya keagamaan.
Hamzah Pansuri adalah yang pertama diantara penulis angkatan pujangga lama dari istana kesultanan Aceh pada abad ke-17 muncul karya klasik selanjutnya yang paling terkenal adalah karya Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf Singkir serta Nuruddin Arraniri.
·           Karya sastra pujangga lama
1.        Hikayat
-            Hikayat Abdullah                   -     Hikayat Kalia dan Damina
-            Hikayat Aceh                          -     Hikayat masyidullah
-            Hikayat Amir Hamzah            -     Hikayat Pandawa jaya
-            Hikayat Andaken Panurat      -     Hikayat Panda Tonderan
-            Hikayat Bayan Budiman        -     Hikayat Putri Djohar Munikam
-            Hikayat Hang Tuah                -     Hikayat Sri Rama
-            Hikayat Iskandar Zulkarnaen -     Hikayat Jendera Hasan
-            Hikayat Kadirun                                -     Tasibul Hikaya
2.        Syair
-            Syair Bidasari
-            Syair Ken Tambuhan
-            Syair Raja Mambang Jauhari
-            Syair Raja Siam
3.        Kitab Agama
-            Syarab Al Asyidiqin (minuman para pecinta) oleh Hamzah Panzuri
-            Asrar Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) oleh Hamzah Panzuri
-            Nur ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsudin Pasai.
-            Bustan as-salatin (taman raja-raja) oleh Nuruddin Ar-Raniri.

2.      SASTRA MELAYU LAMA
Karya satra yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang dilingkungan masyarakat sumatra seperti “Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat.
·           Karya Sastra Melayu Lama
-            Robinson Crousoe (terjemahan)
-            Lawan-lawan Merah
-            Mengelilingi Bumi Dalam 80 Hari (terjemahan)
-            Grauf de Monte Cristo (terjemahan)
-            Rocambole (terjemahan)
-            Nyui Dasima oleh G. Prancis (indo)
-            Bung Rampai oleh A.F. Bewali
-            Kisah Perjanan Nahkoda Bontekoe
-            Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
-            Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R. Komer (indo)
-            Cerita Nyonya Kong Hong Nio
-            Nona Leonie
-            Warna Sari Melayu oleh Kat. S.J
-            Cerita Si Conat oleh F.D.J

3.      ANGKATAN BALAI PUSTAKA
Angkatan Balai Pustaka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit “Bali Pustaka”. Prosa (roman, novel,cerpen, dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, hikayat, dan kazhanah sastra di Indonesia pada masa ini
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan sastra melayu rendah yang tidak menyoroti pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam 3 bahasa yaitu bahasa Melayu tinggi, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda, dan dalam jumlah yang terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sultan Iskandar” dapat disebut sebagai “raja angkatan balai pustaka” karna karya-karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapat dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah  novel Sumatera dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini novel “Siti Nurbaya, dan Salah Asuhan” menjadi karya cukup penting, keduanya mengkritik adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
1.        Merari Siregar
-            Azab dan Sengsara (1920)
-            Binasa Karna Gadis Priangan (1931)
-            Cinta dan Hawa Nafsu
2.        Marah Roesli
-            Siti Nurbaya (1922)
-            Laihami (1924)
-            Anak dan Kemanakan (1956)
3.        Muhammad Yamin
-            Tanah Air (1922)
-            Indonesia Tumpah Darahku (1928)
-            Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
-            Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
4.        Nur Sultan Iskandar
-            Apa Dayaku Karna Aku Seorang Perempuan (1923)
-            Cinta Yang Membawa Maut (1926)
-            Salah Pilih (1928)
-            Tuba Dibalas Dengan Susu (1933)
-            Hulubalung Raja (1934)
-            Katak Hendak Menjadi Lembu.

5.        Lulis Sutan Suti
-            Tak Disangka (1923)
-            Sengsara Membawa Nikmat (1928)
-            Tak Membalas Guna (1932)
-            Memutuskan Pertalian (1932)
6.        Djamaluddin Adinegoro
-            Dara Muda (1927)
-            Asmara Jaya (1928)
-            Abas Soetan Pamoentjak
-            Pertemuan (1927)
7.        Abdul Muis
-            Salah Asuhan (1928)
-            Pertemuan Jodoh (1933)
8.        Aman Datuk Madjoindo
-            Menebus Dosa (1932)
-            Sicebol Merindukan Bulan (1934)
-            Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

4.      PUJANGGA BARU
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik, dan elistik.
Pada masa itu, terbit pula majalah pujangga baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Karyanya layar terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini novel Tengelamnya Kapal Vander Wijck dan Kalau Tak Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa ini dua kelompok sastrawan Pujangga Baru yaitu :
1.    Kelompok “Seni Untuk Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah.
2.    Kelompok “Seni Untuk Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Rustam Effendi.
·           Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
1.        Sutan Takdir Alisjabana
-       Dian Tak Kunjung Padam (1932)
-       Tebaran Mega- kumpulan sajak (1935)
-       Layar Terkembang (1936)
-       Anak Perawan di Sarang Penyuman (1940)
2.        Hamka
-       Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
-       Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939)
-       Tuan direktur (1950)
-       Di Dalam Lembah Kehidupan (1940)
3.        Armijn Pane
-       Jiwa Berjiwa Gamelan Djiwa- kumpulan sajak (1960)
-       Djinak-djinak Merpati- sandiwara (1950)
-       Kisah Antara Manusia (1953)
4.        Sanusi Pane
-            Pancaran Cinta (1926)
-            Puspa mega (1927)
-            Sandhykala Ning Majapahit (1933)
-            Kertajaya (1932)
5.        Tengku Amir Hamzah
-            Nyanyi Sunyi (1937)
-            Begawat Gita (1933)
-            Setanggi Timur (1939)

5.      ANGKATAN 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan “45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga Baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan “45 memiliki konsep yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang” konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan “45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Menguak Takdir dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
1.      Chairil Anwar
-            Kerikil Tajam (1949)
-            Deru Campur Debu (1949)
2.      Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
-            Tiga Menguak Takdir (1950)
3.      Idrus
-            Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
-            Aki (1949)
-            Perempuan Dan Kebangsaan
4.      Achdiat K. Mihardja
-            Atheis (1949)
5.      Trisno Sumardjo
-            Katahati dan Perbuatan (1952)
6.      Utuy Tatang Sontani
-            Suling (drama) (1948)
-            Tambera (1949)
-            Awal dan Mira – drama satu babak (1962)
7.      Suman Hs
-            Kasih ta’ Terlarai (1961)
-            Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
-            Pertjobaan Setia (1940)

6.      ANGKATAN 1950-1960-an
Angkatan ’50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah Asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan kompulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis di kalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (lekra) yang berkonsep sastra Realisme-Sosialis. Timbulnya perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di kalangan sastrawan Indonesia pada awal tahun 1960, menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karna masuk ke dalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 – 1960-an
1.      Pramoedya Ananta Toer
-            Keranji dan Bekasi Jatuh (1947)
-            Bukan Pasar Malam (1951)
-            Di Tepi Kali Bekasi (1951)
-            Keluarga Gerilya (1951)
-            Mereka Yang Dilumpuhkan (1951)
-            Cerita Dari Blora (1952)
-            Gadis Pantai (1965)
2.      Nh. Dini
-            Dunia Dunia (1950)
-            Hati Jang Damai (1960)
3.      Sitor Situmorang
-            Dalam Sadjak (1950)
-            Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
-            Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
-            Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
-            Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
4.      Muchtar Lubis
-            Tak Ada Esok (1950)
-            Jalan Tak Ada Ujung (1952)
-            Tanah Gersang (1964)
-            Si Djamal (1964)
5.      Marius Ramis Dayoh
-            Putra Budiman (1951)
-            Pahlawan Minahasa (1957)
6.      Ajip Rosidi
-            Tahun-tahun Kematian (1955)
-            Di Tengah Keluarga (1956)
-            Sebuah Rumah Untuk Hari Tua (1957)
-            Cari Muatan (1959)
-            Pertemuan Kembali (1961)
7.      Ali Akbar Navis
-            Robohnya Surau Kami- 8 cerita pendek pilihan (1955)
-            Bianglala- kumpulan cerita pendek (1963)
-            Hujan Panas (1964)
-            Kemarau (1967)

7.      ANGKATAN 1966 – 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Muchtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbitan Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Montiggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rusanto, Goenawan Mohamad, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia H.B. Jassin.
Beberapa sastrawan pada angkatan ini antara lain : Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C.Noer, Darmanto Jatman, Arif Budiman, Goenawan Muhamad, Budi Darma, Hamsat Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, DLL.
·           Penulis Dan Karya Sastra Angkatan 1966
1.      Taufik Ismail
-            Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
-            Tirani dan Benteng
-            Buku Tamu Musim Perjuangan
-            Sajak Ladang Jagung
-            Kenalkan
-            Saya Hewan
-            Puisi-puisi Langit
2.      Sutardji Calzom Bachri
-            O
-            Amuk
-            Kapak
3.      Abdul Hadi WM
-            Meditasi (1976)
-            Potret Panjung Pengunjung Pantai Sanur (1975)
-            Tergantung Pada Angin (1977)
4.      Supardi Djoko Damono
-            Dukamu Abadi (1969)
-            Mata Pisau (1974)
5.      Goenawan Muhamad
-            Perikesit (1969)
-            Interlude (1971)
-            Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Simalin Kundang (1972)
-            Seks, Sastra, dan Kita (180)
6.      Umar Kayam
-            Seribu Kunang-kunang di Manhattan
-            Sri Sumara dan Bawuk
-            Lebaran Di Karet
-            Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
-            Kelir Tanpa Batas
-            Para Priyayi
-            Jalan Manikung
7.      Danarto
-            Godlob
-            Adam Makrifat
-            Berhala
8.      Nasjah Djamin
-            Hilanglah Si Anak Hilang (1963)
-            Gairah Untuk Hidup dan Mati (1968)
9.      Putu Wijaya
-              Bila Malam Bertambah Malam (1971)
-              Telegram (1973)   - Pabrik
-              Stasiun (1977)      - Gres dan Bom
8.      ANGKATAN 1980 – 1990-an
Karya sastra Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an antara lain adalah : Rami Sylado,Yudistria Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Aji Darma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Efendi Tarsyad, Noor Aini Cahaya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Huriko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, dimana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya tokoh utama pada novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-kaya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih dan berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Wanita yang dikomandoi  Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardanhi, Diah Hadaning, Yvonne De Fretes, dan Oka Rusmini.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980 – 1990-an
1.      Ahmadun Yosi Herfanda
-              Ladang Hijau (1980)
-              Sajak Penari (1990)
-              Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
-              Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
-              Sembahyang Rerumputan (1997)
2.      Y.B Mangunwijaya
-              Burung-burung Manyar (1981)
3.      Darman Moenir
-            Bako (1983)
-            Dendang (1988)
4.      Budi Darma
-            Olenka (1983)
-            Rafilus (1988)
5.      Sundhunata
-            Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
6.      Arswendo Atmowilito
-            Canting (1986)

7.      Hilman Hariwijaya
-            Lupus – 28 novel (1986-2007)
-            Lupus Kecil – 13 novel (1989-2003)
-            Olga Sepatu Roda (1992)
-            Lupus ABG – 11 novel (1995- 2005)
8.      Dorothea Rosa Herliany
-            Nyanyian Gaduh (1987)
-            Matahari Yang Mengalir (1990)
-            Kepompong Sunyi (1993)
-            Nikah Ilalang (1995)
-            Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
9.      Gustaf Rizal
-            Segi Empat Patah Sisi (1990)
-            Segitiga Lepas Kaki (1991)
-            Ben (1992)
-            Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
10.  Remy Silado
-            Ca Bau Kan (1999)
-            Kerudung Merah Kirmizi (2002)
11.  Afrizal Malna
-            Tonggak Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
-            Yang Berdiam Dalam Mikrofon (1990)
-            Cerpen-cerpen Nusantara Mutakhir (1991)
-            Dinamika Budaya dan Politik (1991)
-            Arsitektur Hujan (1995)
-            Pistol Perdamaian (1996)
-            Kalung Dari Teman(1998)

9.      ANGKATAN REFORMASI
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaran politik  dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdulrahman Wahid (Gusdur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, khususnya seputar Reformasi. Di rubik sastra harian Repoblika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubik sajak-sajak peduli Bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan angktan Reformasih merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses Reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra, puisi, cerpen dan novel pada masa itu. Bahkan penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep zamzam Noer, dan Hartono Beny Hidayat dengan media online: duniasastra.com-nya , juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
1.      Widji Thukul
-              Puisi Pelo
-              Darman

10.  ANGKATAN 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasih muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karna tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya “Angkatan 2000”. Sebuah buku tebal tentang angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmad Yosi Herfanda, dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada 1990-an  seperti Ayu Utami, dan Dhorotea Rosa Herliany.
·           Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
1.      Ayu Utami
-            Saman (1998)
-            Larung (2001)
2.      Seno Gumira Ajidarma
-            Atas Nama Malam
-            Sepotong Senja Untuk Pacarku
-            Biola Tak Berdawai
3.      Dewi Lestari
-            Supernova 1: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (2001)
-            Supernova 2.1: Akar (2002)
-            Supernova 2.2: Petir (2004)
4.      Raudal Tanjung Banua
-            Pulau Cinta di Peta Buta (2003)
-            Ziarah Bagi Yang Hidup (2004)
-            Perang Tak Berulu (2005)
-            Gugusan Mata Ibu (2005)
5.      Habiburrahman El Shirazy
-            Ayat-ayat Cinta (2004)
-            Di Atas Sajadah Cinta (2004)
-            Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
-            Pudarnya Pesona Cleopatra(2005)
-            Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
-            Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
-            Dalam Mihrab Cinta (2007)
6.      Andrea Hirata
-            Laskar Pelangi (2005)
-            Sang Pemimpi (2006)
-            Edensor (2007)
-            Maryamah Karpov (2008)
-            Padang Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
7.      Ahmad Faudi
-            Negeri Lima Menara (2009)
-            Ranah Tiga Warna (2011)
8.      Tosa
-            Lukisan Jiwa (puisi) (2009)
-            Melan Conis (2009)



11.  CYBERSASTRA
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi melalui buku namun termagtub di dunia maya (internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa sistus Sastra Indonesia di dunia maya misalnya: duniasastra.com.


Sumber : http://a21zcr7.blogspot.com/2012/09/periodisasi-sastra-indonesia.html